Monday, 13 May 2013

Comedy VS Drama


Hai readers,

Minggu lalu aku terlibat dalam sebuah project serial tv. Dari situ aku dapat ilmu baru tentang komedi situasi tanpa harus membaca buku-buku tentang komedi (hehehe... I promise I'll read them all to ;) ).

Berikut ini aku rangkumkan dasar-dasar teori yang digunakan dalam menulis serial komedi, setelah dijelaskan mengenai tujuan serial ini oleh sutradaranya.

1. Simpleness

Sebenarnya hal paling dasar dalam menuliskan sebuah cerita adalah kesederhanaan cerita tersebut. Semakin sederhana cerita tersebut maka akan semakin mudah dicerna oleh penontonnya. Namun bukan berarti memiliki cerita yang kompleks dilarang. Hanya saja tujuan serial komedi situasi pada dasarnya adalah menghibur penonton, maka sudah pasti mutlak, cerita sederhanalah yang harus dituliskan.

Coba perhatikan serial komedi situasi fenomenal, 'Friends'. Tidak ada satu ceritapun di tiap episodenya yang tidak sederhana. Semua berkisar kisah kehidupan keenam tokoh utamanya, masalah sehari-hari seperti patah hati, interview kerja, berhenti merokok, dipecat dari kantor, ketemu mantan dan sebagainya. Jika Friends mengambil cerita yang kompleks dan tidak sederhana seperti adanya mata-mata dan pembunuhan, maka mungkin judulnya akan berganti menjadi CSI:Friends.

Masalah selesai ketika kita menemukan ide sederhana? Tidak juga! Coba perhatikan serial tv di Indonesia yang memiliki cerita sederhana, misalkan ketidakcocokan antara mertua dan menantu. Sebetulnya ide tersebut sangat sederhana dan mungkin terjadi pada setiap keluarga. Tapi kesalahan terjadi saat menyusun struktur ceritanya. Ide sederhana tersebut menjadi tidak mungkin jika dikembangkan menjadi cerita tentang mertua yang suka menyiram menantunya dengan air keras.

Inilah yang terjadi ketika kita menulis dengan sistem mengarang. Coba perhatikan serial 'bajaj bajuri', ide sederhana bahwa mertua tidak suka menantunya juga diterapkan. Tetapi apakah kemudian Emak menyiram Bajuri dengan air keras? Tidak. Tapi apakah Emak memperlakukan Bajuri dengan baik? Tidak juga. Emak memperlakukan Bajuri sesuai dengan porsinya sebagai orang betawi yang benci pada menantunya yang gendut, tidak berlebihan juga tidak mengarang. Ya benar, itu mungkin terjadi disekitar kita, itulah perbedaan komedi dan drama.

2. Struktur

Dengan kesederhanaan cerita, sebetulnya menulis komedi itu intinya adalah menuliskan cerita apa-adanya. Tidak memerlukan plot rumit seperti drama yang memerlukan planting dan payoff, atau serial horor yang memerlukan latar belakang cerita yang kuat.

Intinya, struktur ide sederhana dikembangkan dengan memperhatikan hal-hal biasa yang biasa terjadi secara wajar disekitar lingkungan si tokoh. Jangan khawatir bahwa penonton tidak akan suka hal-hal yang biasa. Justru penonton akan merasa dekat dengan tokohnya yang dituliskan secara apa-adanya. Lalu bagaimana caranya kita bisa menuliskan itu semua? Jawabannya adalah kenali tokoh mu!

3. Sitkom is not Stand Up Comedy!

Lalu bagaimana menuliskan cerita yang lucu? Apa kita bisa menggunakan teori stand up comedy?

Hei! Namanya aja udah beda, Komedi Situasi dan Stand up Comedy. Yang satu komedi bedasarkan situasi, yang satunya lagi adalah komedi berdasarkan stand up! :p.

Intinya, kalau komedi bedasarkan joke-joke lepasan, maka hasilnya adalah sketsa. Coba perhatikan serial 'Friends' atau 'Big Bang Theory' atau 'Park and Recreation' dari ketiga serial tersebut semua jokes atau komedinya dibangun bedasarkan situasi. Situasi yang dibangun dari tokoh-tokohnya dalam bersikap, bertindak dan berpikir secara serius tanpa perlu melucu. Namun akibat dari keseriusan itu, justru akan menghasilkan suatu situasi yang lucu.

Contoh, Mr.Bean, coba ingat tentang episode dimana Mr. Bean saat akan melamar pacarnya degan gantungan lukisan. Apakah kejadian tersebut akan menjadi sesuatu yang lucu, jika adegan sebelumnya dimana si pacarnya menunjuk sebuah cincin di sebuah toko cincin tidak ada?

Rangkaian situasi-situasi tersebut tidak ada yang berusaha dilucukan. Pacarnya Mr. Bean serius ingin minta dibelikan cincin, sementara Mr. Bean serius mengira pacarnya minta dibelikan lukisan iklan. Hasilnya? situasi lucu dimana Pacarnya Mr. Bean marah pada Mr. Bean karena diberikan hadiah sebuah lukisan dan bukannya cincin.

---

Dari ketiga hal di atas, Kesimpulannya apa? Banyak penulis sangat merasa sulit sekali menuliskan cerita yang sederhana. Pertama, karena dituntut oleh pemikiran out of the box. Kedua, karena penulis dituntun untuk membuat penontonnya tertawa. Nah, makanya  coba kita kembalikan lagi, bahwa menulis adalah berkarya seni menuliskan kesederhanaan, baik drama, action, horor ataupun komedi.

So, Lets not joking, instead tell the story seriously!



Friday, 7 September 2012

mediCalie [Script Example]

Dari kemarin, perasaan teori terus yah? Kalau gitu, silahkan cek contoh skenario yang iseng-iseng aku tulis untuk serial web. Masih banyak kekurangan pasti, tentu saja karena naskah ini belum melalui proses reading dan atau supervisi produksi. Tapi secara rangka cerita sepertinya aku rasa sudah bisa dipublikasikan. Lebih lengkapnya cek link berikut

mediCalie

oleh ilma f dan dea basori.

enjoy! :D

Tuesday, 7 August 2012

Publishing Your Work!

Ini posting tentang networking!

Baca tulisanku sebelumnya, yang tentang seminar dari Joko Anwar. Dia sempet ngasih tau para peserta mengenai cara masuk dalam bisnis film. Caranya adalah dengan networking.

Tapi... tunggu dulu, maksudnya bukan berarti kita harus kenal dengan orang-orang film, bukan berarti kita harus datengin tiap premier film terus nodong minta kenalan dengan produsernya, atau bukan berarti kita harus nongkrong di tempat dugem yang sama dengan tempat dugem orang-orang film. Well, boleh juga sih, tapi sebenarnya ada banyak cara lain yang lebih keren tanpa harus 'memaksakan' diri menjadi orang lain. :)

Caranya banyak, sekarang ini kan jamannya media sosial. So, kenapa gak kita pakai media sosial itu dengan baik. Bisa dengan follow twitter para produser, jadi kita bisa pelajari bagaimana mereka merencanakan proyek, atau pura-pura deket di FB atau Linkedn atau google+ add mereka sekedar fyi :).Dan lain sebagainya...

Lalu cara mana yang aku pakai? yup, cara menulis dan publish di blog!

Loh, katanya jangan pernah publish tulisan, baik itu sinopsis, ide, cerpen, skrip di blog pribadi! Katanya nanti bisa dicuri. Katanya nanti kalau ternyata sinopsisnya jelek, orang yang baca pasti gak akan mau balik lagi ke blog kita, boro-boro dapat jaringan, yang ada malah nama kita diblacklist.

Yah, itu semua kan katanya. Yang pasti sebelum kita publish atau cukup pede untuk mengatakan bahwa kita sudah bisa menulis, kita harus tahu tulisan mana yang bisa dipublish. Jangan sembarangan publish! :)

Maksudnya, publishlah tulisan yang kita tulis tetapi yang sudah teruji keabsahannya, (agak lebay, hehehe). Artinya, usahkan kita minta komentar dari orang-orang sekitar kita dulu. Lihat feedbacknya, apa mereka suka? Apa mereka bilang kurang? Apa yang butuh diperbaiki? Lalu kita edit secukupnya, baru kita publish.

Sistemnya sama persis ketika seorang penulis buku ingin menerbitkan buku. Setelah draft jadi, tentu masuk ke bagian editor terlebih dahulu, baru bisa terbit.

Dengan mempubliskan tulisan kita di blog, atau media apapun, orang bisa menilai apa yang bisa kita kerjakan. Bukan mustahil dari situlah kita bisa mendapatkan jaringan atau kenalan kan?

^_^

Terus, mana tulisanku? postingan berikutnya yah, aku akan publish skenario yang pernah aku tulis saat sedang belajar sama orang-orang hebat seperti Mba Sekar Ayu Asmara, Pak Armantono dan lainnya. :)

See, yaa...

Tuesday, 31 July 2012

Description is Action

Kali ini aku mau membahas tentang description atau action di dalam sebuah skenario. Ilmunya didapat dari menonton film, baca naskah orang, dan diskusi dengan temen-temen yang udah lebih jago di dunia penulisan skenario ^_^...

Lain dengan sinetron atau ftv atau film di Indonesia, penulisan deskripsi aksi di naskah luar negeri sudah jauh lebih detail.

Deskripsi aksi dalam naskah sebetulnya adalah menuliskan apa yang kita bayangkan. Pak Aris Nugraha menjelaskan dalam penulisan deskripsi sebuah naskah harus dengan kata kerja bukan kata sifat.

Contoh1:

Int. Ruang Tengah. Pagi
Dina keluar dari kamarnya, dia menutup pintu di belakangnya lalu berdiri bingung melihat apa yang ada dihadapannya.

Contoh2:

Int. Ruang Tengah. Pagi
Dina keluar dari kamarnya, dia menutup pintu dibelakangnya. Dina berdiri di depan pintu kamarnya, mengerenyitkan dahi, matanya melotot, mulutnya terbuka, melihat sesuatu di hadapannya.

Perhatikan yang digaris bawahi. Ketika aktor membaca kalimat tersebut, kira-kira mana yang lebih mudah diperagakan, contoh1 atau contoh2?

Contoh1, membuat aktor harus menginterpretasikan sendiri bagaimana si tokoh utama ketika dalam kebingungan. Contoh2, aktor sudah bisa menilai sifat tokoh utama ketika dalam kebingungan. Bagaimana bisa? ya karena sudah dijelaskan reaksi tokoh utama ketika dia berada dalam keadaan 'bingung'.

Di contoh2, terlihat Dina orangnya agak lebay, karena bingung aja sampai membuka mulut. Lain halnya kalau Dina adalah orang pendiam, mungkin yang dilakukan Dina adalah

Contoh3:

Int. Ruang Tengah. Pagi
Dina keluar dari kamarnya, dia menutup pintu dibelakangnya. Dina berdiri di depan pintu kamarnya, mengerenyitkan dahi, matanya memicing dan sedikit memiringkan kepala, melihat sesuatu di hadapannya.

Bagaimana dengan contoh3, apakah terasa perbedaannya?

Hal-hal inilah yang dimainkan seorang penulis dalam menulis skenario. Pertama, seorang penulis harus mengerti karakter tokohnya. Kemudian menuliskannya dalam kalimat kerja, bukan sifat. Namun sayangnya, karena industri sinetron, ftv dan film yang kejar tayang, hal ini sering terlupakan. Akibatnya? Terlihat pada akting aktor2nya, yang sama pada setiap reaksi ^_^...

coba aja perhatikan: kalau bingung pasti mengernyitkan dahi, kalau kaget pasti teriak, kalau sedih pasti nangis, kalau marah pasti melotot, dan lain sebagainya ...

 ---

Selain bentuk kata kerja pada deskripsi aksi, deskripsi dalam sebuah skenario yang paling penting kedua adalah deskripsi ruang. Bagaimana deskripsi ruang bisa berpengaruh pada sebuah skenario?

postingan berikutnya deh yah, ^_^...

Sunday, 14 August 2011

Save the 'life of yours' cat


-Joko Anwar Scriptwritting Masterclass 2011-



Sabtu tanggal 13 agustus 2011 yang lalu, gue iseng aja ikutan kelas ngabuburitnya Joko Anwar. Temen gue sih bilang kalau yang disampeiin Joko Anwar di kelas menulisnya sebagian besar ada di buku 'Save The Cat'. Tapi gimana sih intepretasian seorang Joko Anwar mengenai buku itu sebagai panduan menulis skenarionya, gue sempet mencatat beberapa hal:

1. Dia memulai sharing ilmunya pertama kali dengan cara memperkenalkan apa sebenarnya sebuah script. Secara umum, script bertujuan untuk menjelaskan sebuah rencana. rencananya apa? Nah, kalau di film script ditulis dengan tujuan agar orang tetap stay duduk manis di depan layar bioskop untuk tetap menikmati cerita pada script tersebut. Jadi kalau cerita dalam script itu bagus, tapi cara menuangkan dalam scriptnya tidak bagus, maka script itu bisa jadi gagal. karena akibatnya orang mungkin bisa kabur dari bioskop dan tidak mau mengetahui kelanjutan cerita yang sebenarnya bagus.

2. Lalu bagaimana sih bisa jadi penulis script? Scriptwriter adalah OBSERVER. semakin kaya ilmu, pengetahuan, wawasan dan emosi si penulis maka sebuah script yang ditulisnya akan semakin kaya. sering ada himbauan, bahwa kita sebagai penulis harus menuliskan sesuatu yang dekat dengan kita dulu. Joko Anwar menjelaskan bahwa sebenarnya maksud dari himbauan tersebut adalah bukan berarti penulis tidak bisa menulis tentang E.T. (karena tentu saja tidak ada satu manusiapun yang dekat dengan E.T.), tapi penulis bisa menuliskan emosi yang dekat dengan dirinya lalu disampaikan pada sebuah cerita mengenai E.T.
artinya yang dituliskan oleh penulis adalah yang dekat dirinya yaitu emosinya, pengalamannya, wawasannya, nilai-nilai yang penulis itu pahami dan bahkan prinsip-prinsip hidup yang dimiliki penulis tersebut. In order to get all of that, maka satu hal yang musti penulis lakukan adalah mengamati (OBSERVED) semuanya.
perhatikan semua yang ada disekeliling kita, orang-orang disekitar kita, kejadian yang ada didepan mata kita, ataupun bacaan-bacaan yang kita baca. semua itu bisa memperkaya ilmu, pengetahuan, wawasan bahkan emosi kita sebagai penulis.

3. Ide. sama seperti yang telah dituliskan dalam post sebelumnya, Joko Anwar juga menjelaskan hal yang sama tentang Ide, bahwa Ide bisa didapat dari mana saja. tapi ingat satu, setelah ide itu didapat belum tentu orang lain suka sama ide kita, maka sebagai penulis kita wajib mengetes ide kita. lakukan pitching ide sebanyak mungkin pada orang-orang disekitar kita. See what kind of reaction you get. are they like or like not your idea?

4. Premis. setelah membuat ide maka bentuklah sebuah premis atau dengan kata lain adalah inti cerita yang kita buat. premis biasanya tidak lebih dari satu kalimat, mengandung ironi, bisa tergambar dengan jelas (memiliki image present), dan menggambarkan target cerita yang jelas.
co. film 'Bily Elliot'.
Premise : Seorang anak kecil berumur 10 tahun yang tinggal di daerah pertambangan, ingin sekali menjadi penari balet.
Resep Joko Anwar untuk menuliskan premis:
- paparkan tentang antagonis, tokoh utama, atau jagoan ceritamu
- Jelaskan tentang situasi atau tokoh jahat yang bisa menghambat jagoanmu
- jelaskan keinginan, tujuan atau goal yang ingin dicapai jagoanmu.

5. Tipe Film mu apa? sebagai penulis sebaiknya mengenal tipe film yang akan kita tulis. tujuannya cuma untuk bisa menghindari klise-klise film atau bahkan bisa menggunakan klise-klise tersebut menjadi keuntungan. tipe-tipe film yang ada antara lain:
- monster in the house (bride of chucky, house wax, dll)
- Tiba-tiba jago (spiderman, the mask, dll)
- Long Journey (in to the wild, seven year in tibet, dll)

6. Structure. seperti biasa semua lecturer menulis pasti menjelaskan tentang struktur 3 babak. karena memang hal inilah yang paling dasar. tapi dalam buku Save the Cat, ada struktur yang mungkin bisa membantu dalam menulis script, yaitu:
- Tuliskan opening image yang super keren, sehingga nempel di kepala penonton.
- Tema dan persoalan harus jelas dalam 4 halaman berikutnya
- set up latar belakang karakter agar penonton bisa mengidentifikasi tokoh utama
- catalyst. jelaskan persoalan yang akan membawa tokoh utama bergerak ke masalah atau ke babak ke 2.
- B Story. di halaman ke 10-14 biasanya dijelaskan cerita sampingan.
- Fun and Games. bagian dimana tokoh utama mengalami hal yang menyenangkan.
- midpoint. bagian tengah cerita.
- situasi jahat semakin mendekat.
- all is lost. bagian halaman 70 keatas dimana tokoh utama seperti sudah kehilangan semuanya.
- dark night
- aksi ketiga. taktik baru yang akhirnya dilakukan tokoh utama untuk mencapai tujuan
- finale. akhir dari cerita.
- ending image

7. How to deal writer's block.
- Tanya dan tuliskan jawaban. tentang apa yang membuat kita sebenarnya ingin menuliskan cerita tersebut.
- perhatikan dan pelajari cerita yang bagimana yang bisa kita tulis sampai selesai.
- yang paling penting adalah kenali karakter mu. kemana dia berjalan, apa emosi yang dia alami. Jangan sampai kita menuliskan karakter pasif yang pada akhirnya tidak mampu menggerakan cerita yang sebenarnya.

8. kelebihan seorang penulis adalah DIALOG. jangan sampai kita menuliskan dialog tapi lalu ternyata aktor tidak bisa mengucapkan dialog tersebut dengan baik. kalau ini terjadi berarti kita gagal. gimana caranya supaya tidak gagal? listen dan perhatikan karakter yang kita buat, lalu tes lah dialog tersebut. minta pendapat orang lain mengenai tulisan kita.

9. terakhir, Joko Anwar menjelaskan tentang kewajiban penulis di Indonesia, bahwa di Indonesia penulis harus bisa memasarkan dirinya sendiri. semoga berhasil dan menjadi penulis yang handal! - Joko Anwar.

hehe, panjangnya... ^_^ . dari berbagai ilmu tentang penulisan semuanya memiliki cara yang berbeda untuk menulis skenario. tetapi setiap penulis pasti punya kesesuaian tersendiri terhadap cara-cara tersebut. nah, untuk mengetahui kita sesuai dengan cara yang mana (agar mudah menulis) kita harus tau juga cara-cara menulis yang ada. in the end, that is the all i can share to you... semoga bermanfaat untuk kita semua, ^_^.

Saturday, 16 July 2011

Skenario dasar

Menulis skenario yang baik, bukan berarti setelah membuat scene by scene dengan baik, tapi juga mampu menuliskannya dengan aturan penulisan skenario yang baik dan benar.

sebenarnya tidak ada aturan baku. Setiap penulis bebas menulis sebuah skenario dengan gayanya masing-masing. terutama penulis skenario untuk serial tv. aturan penulisan judul scene, dialog, karakter dan deskripsi aksi setiap tim penulis memiliki gayanya sendiri. tetapi, jika bukan berarti kita bebas menulis skenario. ada standar internasional dalam menuliskan skenario. jadi kalau mau mengirim skenario secara internasional maka kita harus menuliskannya dengan aturan yang standar.

bagaimana aturan yang standar? haruskah kita mengukur inci demi inci jika menulis skenario dengan word? nggak perlu, karena ada banyak software menulis skenario. yang paling mudah adalah final draft tapi di hollywood banyak penulis juga menggunakan screenwriting.

Penulis skenario indonesia, Rayya Makarim, pernah share cerita disebuah seminarnya. Saat dia belajar menulis di Amerika, dia pernah menjadi asisten editor skenario. Setiap harinya dia menerima ribuan naskah. hal yang pertama dia periksa adalah susunan penulisan, jika tidak sesuai standar, maka dibuang. jika sesuai standar maka dibaca sampai 10 halaman, jika cerita tidak menarik, langsung di buang.

Salah satu guruku, Sekar Ayu Asmara juga pernah cerita yang sama. PH besar di Indonesia juga melakukan hal yang sama. karena ribuan naskah masuk ke kantor setiap harinya. dan cara yang paling efektif adalah tulislah 10 halaman pertama dengan cerita yang sangat menarik. Mba Sekar malah menyarankan untuk membuat adegan pertama yang 'nendang'. karena produser tidak punya waktu banyak untuk membaca naskah. jika mereka merasa halaman pertama tidak ada sesuatu yang menarik maka buat apa mereka membaca 80-90 halaman selanjutnya?

Lalu bagaimana sih cara membuat 10 halaman pertama kita menarik? Perhatikan bahwa 10 halaman pertama itu adalah 10 menit pertama film diputar. dan dalam 10 menit itu adalah hal yang penting dalam mengikat penonton agar tetap duduk di bioskop, selain juga dalam 10 menit pertama adalah pengenalan permasalahan utama cerita kita.

Jadi... next post aja yah, soalnya... temen aku yang janji mau meeting kok belum dateng juga, sampe selesai nulis blog ini dan tangan aku pegel, makanan udah abis, petugas restoran udah ngelirik, mending pulang aja deh ya, lanjut besok lagi nulisnya, hehehe...

Wednesday, 13 July 2011

Konsistensi karakter

Beruntung banget, minggu lalu aku bisa ikut gabung meeting sama orang-orang yang memang kompeten di dunia hiburan. Dari meeting itu kemudian aku dapat pelajaran baru. Pelajaran tentang karakter.

Bagaimana membuat karakter dengan benar? bagaimana menghidupkan karakter tersebut dan bagaimana karakater tersebut harus konsisten?

Sebenarnya membuat karakter adalah bebas sebebas-bebasnya. Karakter akan terbentuk sesuai dengan cerita yang kita bangun. Apakah tokoh utama lahir di bulan mei? apakah tokoh utama bisa bicara bahasa inggris dengan baik? itu semua tergantung dari ceritanya, apakah kita perlu seorang tokoh yang lahir di bulan mei? misalkan, ceritanya tentang seorang anak yang lahir ketika reformasi mei 1998, maka jika kita harus membuat tokoh yang lahir di bulan mei. apakah kita perlu membuat tokoh kita bicara bahasa inggris? maka yang perlu diperhatikan adalah apakah ceritanya membutuhkan tokoh yang bisa bahasa inggris?

Tapi yang paling penting ada ke-konsistenan, kesetiaan penulis terhadap karakter yang sudah dibangun tersebut. terkadang penulis skenario melupakan sifat karakter utama, jika demikian maka dialog yang akan diucapkan pemain nantinya akan terasa aneh. hal itu gawat, karena akibatnya para pemain harus melakukan improvisasi. kalau sudah begitu, apa yang kita tulis semua akan sia-sia.

Dari meeting minggu kemarin, salah seorang anggota meeting bicara tentang bagaimana seorang penulis juga sebaiknya belajar berakting. Hal ini penting karena agar ketika kita menulis kita bisa merasakan dialog yang kita tulis. Bener juga sih, tapi kalau begitu repot juga. soalnya penulis harus bisa memerankan semua karakter yang ada di naskah sedangkan para pemain tidak. hehehe...

haha, yah kalau mau bagus ya memang harus begitu. sama seperti menulis novel, penulis harus bisa merasakan karakter yang dia tulis. kalau nggak, karakter yang dibuat akan terasa hambar dan tidak hidup.

temenku seorang novelis (Mba henny fiximix) pernah cerita bahwa ketika dia menulis sebuah novel, dia bisa merasakan darah dan daging si karakter yang dia ciptakan. nggak heran makanya, pada saat kita baca novel juga kita bisa merasakan kehadiran si karakter tersebut.

Tapi lain kepentingannya dengan menulis karakter untuk skenario. Karena pada akhirnya, skenario itu akan diperankan oleh seseorang. pertanyaannya apakah skenario yang kita tulis tersebut dapat dengan baik diperankan oleh orang tersebut? . ya memang, masalah tersebut akan selesai oleh seorang casting director. tapi guruku, Aris nugraha, pernah mengajari cara membuat karakter. begini kira-kira: biasanya para pemain itu punya ciri khas tersendiri. nah sebagai penulis kita harus bisa mengeluarkan potensi-potensi menarik dari para pemain tersebut. potensi-potensi itulah yang lantas kita tuliskan atau tambahkan pada karakter cerita yang kita buat agar karakternya bisa lebih hidup.

dengan begitu, karakter yang kita buat bisa dengan pas dimainkan oleh si pemain. nah, lalu apa sih yang dimaksud dengan membuat karakter? di postingan berikutnya yah, udah jam 11 malem, ^_^