Monday, 13 May 2013

Comedy VS Drama


Hai readers,

Minggu lalu aku terlibat dalam sebuah project serial tv. Dari situ aku dapat ilmu baru tentang komedi situasi tanpa harus membaca buku-buku tentang komedi (hehehe... I promise I'll read them all to ;) ).

Berikut ini aku rangkumkan dasar-dasar teori yang digunakan dalam menulis serial komedi, setelah dijelaskan mengenai tujuan serial ini oleh sutradaranya.

1. Simpleness

Sebenarnya hal paling dasar dalam menuliskan sebuah cerita adalah kesederhanaan cerita tersebut. Semakin sederhana cerita tersebut maka akan semakin mudah dicerna oleh penontonnya. Namun bukan berarti memiliki cerita yang kompleks dilarang. Hanya saja tujuan serial komedi situasi pada dasarnya adalah menghibur penonton, maka sudah pasti mutlak, cerita sederhanalah yang harus dituliskan.

Coba perhatikan serial komedi situasi fenomenal, 'Friends'. Tidak ada satu ceritapun di tiap episodenya yang tidak sederhana. Semua berkisar kisah kehidupan keenam tokoh utamanya, masalah sehari-hari seperti patah hati, interview kerja, berhenti merokok, dipecat dari kantor, ketemu mantan dan sebagainya. Jika Friends mengambil cerita yang kompleks dan tidak sederhana seperti adanya mata-mata dan pembunuhan, maka mungkin judulnya akan berganti menjadi CSI:Friends.

Masalah selesai ketika kita menemukan ide sederhana? Tidak juga! Coba perhatikan serial tv di Indonesia yang memiliki cerita sederhana, misalkan ketidakcocokan antara mertua dan menantu. Sebetulnya ide tersebut sangat sederhana dan mungkin terjadi pada setiap keluarga. Tapi kesalahan terjadi saat menyusun struktur ceritanya. Ide sederhana tersebut menjadi tidak mungkin jika dikembangkan menjadi cerita tentang mertua yang suka menyiram menantunya dengan air keras.

Inilah yang terjadi ketika kita menulis dengan sistem mengarang. Coba perhatikan serial 'bajaj bajuri', ide sederhana bahwa mertua tidak suka menantunya juga diterapkan. Tetapi apakah kemudian Emak menyiram Bajuri dengan air keras? Tidak. Tapi apakah Emak memperlakukan Bajuri dengan baik? Tidak juga. Emak memperlakukan Bajuri sesuai dengan porsinya sebagai orang betawi yang benci pada menantunya yang gendut, tidak berlebihan juga tidak mengarang. Ya benar, itu mungkin terjadi disekitar kita, itulah perbedaan komedi dan drama.

2. Struktur

Dengan kesederhanaan cerita, sebetulnya menulis komedi itu intinya adalah menuliskan cerita apa-adanya. Tidak memerlukan plot rumit seperti drama yang memerlukan planting dan payoff, atau serial horor yang memerlukan latar belakang cerita yang kuat.

Intinya, struktur ide sederhana dikembangkan dengan memperhatikan hal-hal biasa yang biasa terjadi secara wajar disekitar lingkungan si tokoh. Jangan khawatir bahwa penonton tidak akan suka hal-hal yang biasa. Justru penonton akan merasa dekat dengan tokohnya yang dituliskan secara apa-adanya. Lalu bagaimana caranya kita bisa menuliskan itu semua? Jawabannya adalah kenali tokoh mu!

3. Sitkom is not Stand Up Comedy!

Lalu bagaimana menuliskan cerita yang lucu? Apa kita bisa menggunakan teori stand up comedy?

Hei! Namanya aja udah beda, Komedi Situasi dan Stand up Comedy. Yang satu komedi bedasarkan situasi, yang satunya lagi adalah komedi berdasarkan stand up! :p.

Intinya, kalau komedi bedasarkan joke-joke lepasan, maka hasilnya adalah sketsa. Coba perhatikan serial 'Friends' atau 'Big Bang Theory' atau 'Park and Recreation' dari ketiga serial tersebut semua jokes atau komedinya dibangun bedasarkan situasi. Situasi yang dibangun dari tokoh-tokohnya dalam bersikap, bertindak dan berpikir secara serius tanpa perlu melucu. Namun akibat dari keseriusan itu, justru akan menghasilkan suatu situasi yang lucu.

Contoh, Mr.Bean, coba ingat tentang episode dimana Mr. Bean saat akan melamar pacarnya degan gantungan lukisan. Apakah kejadian tersebut akan menjadi sesuatu yang lucu, jika adegan sebelumnya dimana si pacarnya menunjuk sebuah cincin di sebuah toko cincin tidak ada?

Rangkaian situasi-situasi tersebut tidak ada yang berusaha dilucukan. Pacarnya Mr. Bean serius ingin minta dibelikan cincin, sementara Mr. Bean serius mengira pacarnya minta dibelikan lukisan iklan. Hasilnya? situasi lucu dimana Pacarnya Mr. Bean marah pada Mr. Bean karena diberikan hadiah sebuah lukisan dan bukannya cincin.

---

Dari ketiga hal di atas, Kesimpulannya apa? Banyak penulis sangat merasa sulit sekali menuliskan cerita yang sederhana. Pertama, karena dituntut oleh pemikiran out of the box. Kedua, karena penulis dituntun untuk membuat penontonnya tertawa. Nah, makanya  coba kita kembalikan lagi, bahwa menulis adalah berkarya seni menuliskan kesederhanaan, baik drama, action, horor ataupun komedi.

So, Lets not joking, instead tell the story seriously!



1 comments:

Ali Sabilullah said...

Trimaksi atas kunjungannya. karyamu kreatif sekali, i like it more.. he..
can visit me again: http://hiburansunyi.blogspot.com/2014/03/babu-ngeblog-membuatku-tergugah.html

Post a Comment