Saturday, 16 July 2011

Skenario dasar

Menulis skenario yang baik, bukan berarti setelah membuat scene by scene dengan baik, tapi juga mampu menuliskannya dengan aturan penulisan skenario yang baik dan benar.

sebenarnya tidak ada aturan baku. Setiap penulis bebas menulis sebuah skenario dengan gayanya masing-masing. terutama penulis skenario untuk serial tv. aturan penulisan judul scene, dialog, karakter dan deskripsi aksi setiap tim penulis memiliki gayanya sendiri. tetapi, jika bukan berarti kita bebas menulis skenario. ada standar internasional dalam menuliskan skenario. jadi kalau mau mengirim skenario secara internasional maka kita harus menuliskannya dengan aturan yang standar.

bagaimana aturan yang standar? haruskah kita mengukur inci demi inci jika menulis skenario dengan word? nggak perlu, karena ada banyak software menulis skenario. yang paling mudah adalah final draft tapi di hollywood banyak penulis juga menggunakan screenwriting.

Penulis skenario indonesia, Rayya Makarim, pernah share cerita disebuah seminarnya. Saat dia belajar menulis di Amerika, dia pernah menjadi asisten editor skenario. Setiap harinya dia menerima ribuan naskah. hal yang pertama dia periksa adalah susunan penulisan, jika tidak sesuai standar, maka dibuang. jika sesuai standar maka dibaca sampai 10 halaman, jika cerita tidak menarik, langsung di buang.

Salah satu guruku, Sekar Ayu Asmara juga pernah cerita yang sama. PH besar di Indonesia juga melakukan hal yang sama. karena ribuan naskah masuk ke kantor setiap harinya. dan cara yang paling efektif adalah tulislah 10 halaman pertama dengan cerita yang sangat menarik. Mba Sekar malah menyarankan untuk membuat adegan pertama yang 'nendang'. karena produser tidak punya waktu banyak untuk membaca naskah. jika mereka merasa halaman pertama tidak ada sesuatu yang menarik maka buat apa mereka membaca 80-90 halaman selanjutnya?

Lalu bagaimana sih cara membuat 10 halaman pertama kita menarik? Perhatikan bahwa 10 halaman pertama itu adalah 10 menit pertama film diputar. dan dalam 10 menit itu adalah hal yang penting dalam mengikat penonton agar tetap duduk di bioskop, selain juga dalam 10 menit pertama adalah pengenalan permasalahan utama cerita kita.

Jadi... next post aja yah, soalnya... temen aku yang janji mau meeting kok belum dateng juga, sampe selesai nulis blog ini dan tangan aku pegel, makanan udah abis, petugas restoran udah ngelirik, mending pulang aja deh ya, lanjut besok lagi nulisnya, hehehe...

Wednesday, 13 July 2011

Konsistensi karakter

Beruntung banget, minggu lalu aku bisa ikut gabung meeting sama orang-orang yang memang kompeten di dunia hiburan. Dari meeting itu kemudian aku dapat pelajaran baru. Pelajaran tentang karakter.

Bagaimana membuat karakter dengan benar? bagaimana menghidupkan karakter tersebut dan bagaimana karakater tersebut harus konsisten?

Sebenarnya membuat karakter adalah bebas sebebas-bebasnya. Karakter akan terbentuk sesuai dengan cerita yang kita bangun. Apakah tokoh utama lahir di bulan mei? apakah tokoh utama bisa bicara bahasa inggris dengan baik? itu semua tergantung dari ceritanya, apakah kita perlu seorang tokoh yang lahir di bulan mei? misalkan, ceritanya tentang seorang anak yang lahir ketika reformasi mei 1998, maka jika kita harus membuat tokoh yang lahir di bulan mei. apakah kita perlu membuat tokoh kita bicara bahasa inggris? maka yang perlu diperhatikan adalah apakah ceritanya membutuhkan tokoh yang bisa bahasa inggris?

Tapi yang paling penting ada ke-konsistenan, kesetiaan penulis terhadap karakter yang sudah dibangun tersebut. terkadang penulis skenario melupakan sifat karakter utama, jika demikian maka dialog yang akan diucapkan pemain nantinya akan terasa aneh. hal itu gawat, karena akibatnya para pemain harus melakukan improvisasi. kalau sudah begitu, apa yang kita tulis semua akan sia-sia.

Dari meeting minggu kemarin, salah seorang anggota meeting bicara tentang bagaimana seorang penulis juga sebaiknya belajar berakting. Hal ini penting karena agar ketika kita menulis kita bisa merasakan dialog yang kita tulis. Bener juga sih, tapi kalau begitu repot juga. soalnya penulis harus bisa memerankan semua karakter yang ada di naskah sedangkan para pemain tidak. hehehe...

haha, yah kalau mau bagus ya memang harus begitu. sama seperti menulis novel, penulis harus bisa merasakan karakter yang dia tulis. kalau nggak, karakter yang dibuat akan terasa hambar dan tidak hidup.

temenku seorang novelis (Mba henny fiximix) pernah cerita bahwa ketika dia menulis sebuah novel, dia bisa merasakan darah dan daging si karakter yang dia ciptakan. nggak heran makanya, pada saat kita baca novel juga kita bisa merasakan kehadiran si karakter tersebut.

Tapi lain kepentingannya dengan menulis karakter untuk skenario. Karena pada akhirnya, skenario itu akan diperankan oleh seseorang. pertanyaannya apakah skenario yang kita tulis tersebut dapat dengan baik diperankan oleh orang tersebut? . ya memang, masalah tersebut akan selesai oleh seorang casting director. tapi guruku, Aris nugraha, pernah mengajari cara membuat karakter. begini kira-kira: biasanya para pemain itu punya ciri khas tersendiri. nah sebagai penulis kita harus bisa mengeluarkan potensi-potensi menarik dari para pemain tersebut. potensi-potensi itulah yang lantas kita tuliskan atau tambahkan pada karakter cerita yang kita buat agar karakternya bisa lebih hidup.

dengan begitu, karakter yang kita buat bisa dengan pas dimainkan oleh si pemain. nah, lalu apa sih yang dimaksud dengan membuat karakter? di postingan berikutnya yah, udah jam 11 malem, ^_^

Monday, 11 July 2011

Jenis Babak

- 3 Babak

Standar penulisan internasional adalah 3 babak. Pertama adalah opening dan perkenalan tokoh sekaligus pengenalan konflik. Babak kedua adalah perjalanan bagaimana tokoh menyelesaikan konflik dimana akan ada hambatan dan rintangan dalam menghadapinya. Di akhir babak kedua akan diperkenalkan hambatan dan rintangan terberat dan tersulit sehingga menjadi klimkas suatu cerita. Babak ke tiga adalah penyelsaian masalah tersebut dan dengan sangat cepat.

Aturan 3 babak:

Awal – konflik – ending


- 8 / 9 babak

Dalam penulisan cerita-cerita thriller atau menegangkan seperti detektif, politik, teka-teki, action atau horor. Akan lebih mudah jika kita menuliskan cerita tersebut dalam 9 babak. Sebenarnya mengacu pada 3 babak, hanya saja lebih detail.

Aturan 9 babak:

· Kejadian buruk

· Pengenalan tokoh (biasa)

· Pengenalan antagonis (luar biasa)

· Tokoh terkena masalah

· Melarikan diri

· Belajar dan menemukan tokoh penolong

· Menyusun rencana

· Rencana gagal

· Plan B berhasil – ending


Pusing? mending langsung ke contohnya aja ya... tunggu next post ^_^

Friday, 8 July 2011

Ide?

IDE?

Sejak memutuskan untuk serius menulis. Orang selalu penasaran tentang darimana aku bisa dapat ide untuk menulis.

It's a thousand question with only one answer, which is ...

Mulailah dengan Letikan.

Guruku (aris nugraha) mengajariku bagaimana membuat sebuah cerita. Intinya satu sebuah letikan. Dan itu sangat amat berguna.

Ilustrasinya begini. Sekelompok orang membicarakan tentang sebuah topik, misalnya seorang anak yang sedang berbicara dengan orang tua, Seorang kakak yang bicara dengan saudara sepupunya, seorang gadis yang curhat dengan temannya, seorang pengusaha sedang berbasa-basi dengan investornya atau yang lainnya. Lantas apakah masing-masing topik yang dibicarakan mereka itu datang tiba-tiba?

Tentu tidak.

Pasti si anak terletik sesuatu tentang hal disekolahnya hingga dia menceritakan topik tersebut pada orangtuanya. Pengusaha tersebut juga pasti terletik sesuatu hingga akhirnya dia gunakan sebagai basa-basi dengan investornya.

Nah, begitu pula dengan ide cerita. Awalilah dengan sebuah letikan.

Tapi bagaimana letikan itu muncul?

carilah sesuatu yang dekat dengan kita. Bisa pengalaman, bisa apa yang sedang kita baca, bisa apa yang sedang kita lihat, bisa apa yang sedang kita ingat, bahkan bisa dari benda-benda yang ada di sekeliling kita.

Setelah mendapatkan letikan, misalkan letikan diambil dari pengalaman, letikannya adalah 'sekolah'. lalu apakah kita bisa menuliskan cerita dari letikan tersebut? apa kita bisa mendapatkan sebuah ide cerita dari letikan tersebut?

Atau katakanlah, beda yang ada di sekeliling kita. misalkan, saya menulis blog ini dengan sebuah laptop. maka saya bisa menggunakan laptop sebagai letikan. dengan sebuah letikan yaitu laptop. saya bisa menggunakannya sebagai ide cerita saya.

Contoh :
Letikan : Kulkas
Ide cerita : Seorang anak pemulung yang tinggal dibantaran kali ingin memiliki kulkas di rumahnya agar dia tidak harus mencuri es di warung sebelah rumahnya.

Bagaimana, mencari ide itu gampang kan?

Nah, masalah selanjutnya adalah apakah dari letikan itu bisa muncul sebuah ide cerita yang hebat? sebuah ide cerita yang belum pernah dituliskan sebelumnya?

Sabar ya, tunggu postingan selanjutnya , ^_^

oleh ilma fathnurfirda